Desa Nglambangan
Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun
Situs Punden Lambang Kuning, Warisan Leluhur yang Jadi Spirit Budaya dan Sumber Ekonomi Masyarakat Nglambangan

Madiun – Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, memiliki warisan budaya yang sangat berharga, yaitu Situs Punden Lambang Kuning. Situs bersejarah ini bukan hanya menjadi simbol spiritual dan identitas desa, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata budaya dan religi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Nglambangan, Rudy Kristianto, dalam dialog SSBTALK JTV MADIUN bertema “Situs Punden Lambang Kuning: Warisan Leluhur, Spirit Budaya, dan Sumber Ekonomi Masyarakat.” Menurut Rudy, situs ini telah ada sejak masa Kerajaan Kahuripan Kediri pada abad ke-11 hingga ke-12 Masehi. Berdasarkan penuturan para sesepuh, tempat ini pertama kali dibuka oleh Nyi Lambang Kuning, seorang tokoh perempuan yang melarikan diri dari Kediri saat terjadi wabah besar akibat peristiwa Calon Arang. “Beliau membuka hutan dan mendirikan perkampungan pertama di kawasan ini. Dari situlah cikal bakal Desa Nglambangan. Situs tersebut menjadi tempat beliau menetap dan menjadi pusat spiritual desa hingga sekarang,” jelas Rudy Kristianto. Di area situs, ditemukan berbagai peninggalan kuno seperti batu umpak, lingga-yoni, batu dakon, dan miniatur lumbung padi yang menunjukkan adanya kegiatan pemujaan dan simbol kesuburan pada masa lalu. Seluruh benda bersejarah itu hingga kini masih dijaga secara turun-temurun oleh warga setempat.
Legenda dan Nilai Filosofis Nyi Lambang Kuning
Lebih lanjut, Rudy menjelaskan bahwa Nyi Lambang Kuning bukan sekadar legenda, tetapi sosok nyata yang menjadi simbol keteguhan, kebijaksanaan, dan kemandirian perempuan Jawa. Nilai-nilai itu menjadi pedoman bagi masyarakat Nglambangan dalam kehidupan sehari-hari — terutama dalam hal gotong royong, keberanian, dan cinta terhadap alam. “Beliau menjadi teladan dalam membangun kehidupan baru di tengah kesulitan. Semangat itu masih hidup di hati masyarakat Nglambangan hingga kini,” tambahnya.
Gotong Royong dan Tradisi yang Terjaga
Situs Lambang Kuning hingga kini dirawat secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat. Setiap bulan, warga bergiliran melakukan kerja bakti membersihkan area situs dan menjaga kesuciannya. Tak hanya itu, berbagai tradisi adat juga rutin digelar di lokasi ini. Tradisi Bersih Desa dan Kirab Tumpeng menjadi agenda tahunan yang paling dinantikan warga. Acara digelar sebagai wujud rasa syukur atas limpahan berkah dan penghormatan kepada leluhur. Warga dari tiap RT membawa tumpeng hasil bumi yang kemudian diarak menuju situs dengan iringan gamelan dan doa bersama. Selain itu, kegiatan istigasah malam Jumat Legi, pementasan wayang kulit, dan tari tradisional juga rutin digelar di area situs. Kegiatan ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang terus berkembang.
Langkah Pengembangan Wisata Budaya dan Religi


